
oh, sudah hampir duapuluh lima tahun aku berada di sini. Banyak perubahan di sekelilingku memang, tapi tetap saja akulah yang tergagah dan yang paling menjadi favorit di sini.
“Sayang, nanti kita jalan ya…”
Oh, lagi-lagi mereka. Jujur aku sudah muak dengan tingkah laku mereka akhir-akhir ini. Selalu saja melakukan hal yang membuatku gerah. Padahal dahulu, tak pernah ada yang berani bermesraan di dekatku. Tak berani, karena memang tak ada yang melakukannya . Entahlah, zaman memang telah berubah. Ingin rasanya aku mengusir mereka dengan menyuruh lebah-lebah yang bersarang di tubuhku. Tapi, pantaskah aku melakukannya? Padahal Rahim Allah saja tak pernah mengenal siapa hambaNya. Maka, aku mencoba bersabar. Kusuruh saja angin bertiup lebih kencang, agar mereka tertimpa dedaunanku yang sudah tua. Dan ternyata berhasil, dua pasang pelajar yang masih bau kencur itu setidaknya tidak berada di bawah naunganku untuk sementara waktu.
“Kalo ini caranya gimana? Pakenya rumus yang mana?”
Hmm, bangganya aku melihat calon-calon pemimpin negeri ini tengah belajar sungguh-sungguh. Saling berbagi ilmu dan menggali kenikmatan yang telah Allah berikan kepada mereka. Tak jarang, dedaunanku sengaja kulebarkan agar mereka tak terkena sinar mentari yang menyengat di siang hari. Ya, mereka salah satu favorit untuk berada dekat denganku.
“Tuhan kirimkanlah aku….kekasih yang baik hati…”
Mereka, selalu terlihat ceria meskipun banyak persoalan yang menghampirinya. Meskipun sebenarnya aku tak suka dengan perilaku mereka yang suka menimpuki tubuhku untuk mengusili lebah-lebah itu. Rasanya ingin kusuruh angin bertiup dengan kencangnya agar dahanku bisa patah dan menimpa diri-diri mereka yang jahil. Tapi aku sadar, bahwa aku tak mempunyai hak untuk menghukum mereka. Karena sekali lagi, Rahim Allah tak pernah memilih. Sebenarnya aku suka dengan kreativitas mereka. Mereka mempunyai bakat untuk menjadi orang besar. Aku suka dengan suara merdu yang mereka nyanyikan. Akan tetapi terkadang aku kesal karena seringkali, atau bahkan selalu saja mereka tidak mengindahkan bahkan meninggalkan panggilan cinta dari Rabb mereka. Padahal RahimNya tak pernah sekalipun meninggalkan mereka. Tapi, aku hanyalah sebuah pohon yang tak berhak menghakimi mereka. Biarlah pada saatnya nanti mereka akan dimintai pertanggungjawabannya sendiri, tanpa bisa lari ataupun mengelak lagi.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Dan ini adalah orang-orang favoritku. Meskipun tahun telah sering berganti, tapi tetap saja kelompok favorit ini selalu ada dengan formasi yang berbeda. Tertunduk dan dengan khusyuk mentafakuri ayat Allah. Bahkan menangis karena menyadari perbuatan dosa yang telah mereka lakukan. Mereka begitu bersemangat untuk menumbuhkan cinta pada Rabbnya. Maka akupun bersemangat melebarkan dedaunanku yang hijau agar mereka terhindar dari sengatan panas mentari, menyuruh dedaunanku untuk mengeluarkan O2 yang lebih banyak dari biasanya, dan menyuruh angin berhembus perlahan agar dedaunanku yang tua tidak mengenai mereka. Agar mereka betah berlama-lama berada di dekatku.
Tapi, akhir-akhir ini aku merasa rindu karena mereka sudah jarang berada di dekatku. Hmm, akupun tak tahu mengapa. Oh, apakah mungkin mereka sudah enggan berada didekatku yang mulai rapuh ini? Oh, ataukah memang mereka sudah tidak ada lagi di lingkungan ini? Aku teramat merindukan mereka. Alunan syahdu kalam Illahi yang mereka lantunkan, semangat mereka …cinta mereka…tawa mereka…bahkan tangisan mereka…..
Ataukah memang aku sudah tak layak lagi menaungi mereka? Ya, bisa jadi seperti itu dan kuharap itulah yang terjadi. Aku tak mau kalau sampai mereka tak pernah ada lagi. Biarlah, biarlah aku saja yang merasa kesepian dalam kehampaan ini. Karena bagiku, berkumpulnya mereka di dekatku selalu membawa kedamaian di tubuhku yang mulai rapuh ini. Mudah-mudahan semua karena aku yang telah berumur, karena aku yang sudah tidak menghasilkan dedaunan yang rimbun. Kuharap begitu, karena aku tak mau mereka tak berkumpul lagi akibat kelalaian mereka pada nikmat Rabbnya. Karena aku tak mau, ketiadaan mereka di dekatku adalah karena sudah tak ada lagi yang peduli dengan mereka.
Dan aku tidak akan pernah meminta angin untuk menghempas gelisah ini
Biarlah rindu ini mengalir
Sesuci embun dan rintik hujan yang meneduhkan kerontang bumi
Biar kembali sejuk jiwaku
Dalam kenangan rindang dedaunan cinta yang memayungi mereka
Rabb, pasrah padamu atas rinduku pada mereka*
*puisinya disadur dari kiriman sms iik
By:Puti for Salam Duta
curahan hati sebatang pohon..
Posted by salamdoeta
12/30/2008, under
intermezzo
|
0
feedback
copyright :
humas salamdoeta 2008
-silaturahim alumni muslim sman 2 tangerang-
-tiada hari tanpa sosialisasi-
-silaturahim alumni muslim sman 2 tangerang-
-tiada hari tanpa sosialisasi-










0 Responses So Far: