Milist Salam Doeta

SUNYI


oleh Annisaa Fitrah pada 28 Desember 2010 jam 17:45

Sunyi. Tidak ada bunyi apapun kecuali hentakan jemari yang bertemu dengan keyboard laptop dan bunyi detak jarum jam dinding. Rara mengalihkan pandangan dari layar laptop yang hampir 24 jam full menyala menuju jam dinding yang berwarna kuning bergambar lambang sebuah universitas. Tepat pukul 03.00 pagi. Rara beranjak dari sudut yang dipenuhi kertas dan buku-buku tebal miliknya. Deadline skripsi menanti. Beranjak menuju keran di kamar mandi berukuran 2x3 meter. Rara sudah terbiasa dengan dinginnya udara dan air di waktu-waktu sebelum cahaya. Sholat qiyamulail. Selesai wudhu, Rara mempercepat langkahnya menuju kamar. Berharap udara dingin berhenti mengikutinya. Mukena hadiah dari bundanya saat pergi ke tanah suci tahun lalu masih terlihat sangat baru. Rara memang apik dalam merawat benda-benda miliknya.

Kedua tangannya mulai terangkat setinggi telinga. “Állohuakbar “. Rara memulai perjumpaannya dengan Sang Khalik. Satu, dua, hingga sebelas rakaat yang diakhiri dengan sujud terakhirnya yang lama. Layaknya tak ingin mengakhiri pertemuan paling romantis dengan Sang Maha Esa. Rara mengakhiri sholatnya dengan salam. Ia melirik papan time line yang terpampang menghiasi dinding kamarnya. “hampir 3 kali dalam seminggu pasti ada rapat, mengajar di sekolah terbuka setiap akhir pekan, dealine tugas dan skripsi, diskusi kelompok”. Bla bla bal bla, Rara kembali menundukkan kepalanya menyatu dengan sajadah yang masih terhampar. “Allohurobbi….” Gumamnya dalam hati. “semoga waktu untukMu bukanlah sisa-sisa waktu hidupku, semoga apa yang aku lakukan selalu dalam keridhoanMu yaaAlloh…” mata bulat miliknya mulai tergenang air mata. “Yaa Alloh..jika aku sibuk, maka sibukkanlah dengan hal hal yang memberatkan aku pada kebaikan”. Air matanya tak terbendung lagi, ia menangis sejadi-jadinya. Dadanya naik turun mengatur nafas. Rara ingat betul, akhir-akhir ini dirinya sangat disibukkan dengan skripsi, keterlibatannya dalam penelitian bersama dosen di kampus, dan urusan organisasi.

Rara memejamkan matanya. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan panjang. Hanya ini yang ia butuhkan, mengadu pada Sang Penggenggam Hati. Rara masih dalam posisi menundukkan kepalanya, sujud. Ia percaya bahwa saat itulah dimana ia merasa sangat dekat dengan Rabb nya. Ia melihat dalam kegelapan. Tiba-tiba ia merasakan dirinya seperti dalam ruangan yang sangat sempit dan gelap. “Yaa Alloh...sesempit dan segelap inikah alam kubur??” gumamnya dalam hati. Rara segera beristighfar dengan suara terisak. Air matanya tumpah meruah membasahi sajadah. “Alloh...semoga kelak kubur ku tidak gelap seperti ini, tidak sempit menyesakkan seperti ini...Rara takut...” Rara hanya sanggup berbicara dalam hati. Kesunyian kembali menemaninya hingga adzan subuh berkumandang. [FIKSI]

Note:
Di tengah kesibukan yang ada, dengarkanlah suara hati kecil kita, ia selalu meminta waktu untuk kembali berjumpa dengan Pemilik Sejatinya. Sesibuk apapun, serepot apapun kawan...hati kita selalu memintanya....maka dengarkanlah suara hatimu....
“Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku. dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. 89:25-30).
Pengingatan untuk smangkamerah-manusia biasa yang sering alpa [T_T]
Depok, 26 Desember 2010 menjelang timnas garuda berlaga

sumber : http://www.facebook.com/notes/annisaa-fitrah/sunyi/10150153316009517?ref=notif&notif_t=note_reply#!/note.php?note_id=10150153316009517


0 Responses So Far:

:nangis :rate :lebay :hoax :nyimak :hotnews :gotkp :wow :pertamax :lapar :santai :malu :ngintip :newyear.

copyright :

 humas salamdoeta 2008
-silaturahim alumni muslim sman 2 tangerang-
-tiada hari tanpa sosialisasi-

buku tamu melayang


ShoutMix chat widget
Mobile Edition
By Blogger Touch